Pernah nggak sih, kamu download aplikasi to-do list buat ngebantu hidup lebih teratur, eh malah jadi pusing sendiri? Iklan muncul tiap 30 detik, notifikasi ngajak upgrade premium terus, atau bahkan aplikasinya sendiri lebih berat daripada game. Padahal cuma mau nulis “beli susu” sama “bayar listrik”.
Aku pernah di sana. Pernah install aplikasi keren banget, tapi loading-nya lama, UI-nya penuh banner iklan, dan akhirnya malah males buka. Makanya, setelah nyobain puluhan aplikasi di HP Android, aku bisa bilang: simple is the ultimate sophistication. Kamu butuh aplikasi yang ringan, minim gangguan, dan fokus pada satu fungsi: bikin kamu produktif.
Nah, di sini aku mau bagi pengalaman pribadi soal 7 aplikasi to-do list di Android yang beneran gratis, nggak bikin HP lemot, dan iklannya bisa diitung jari (atau bahkan nol). Semua aplikasi di bawah ini sudah aku tes minimal 2 minggu di HP kelas menengah, jadi yakin deh ini rekomendasi yang beneran usable.
1. Google Tasks: Kekuatan Minimalis Google
Kalau kamu pakai Gmail atau Google Calendar di HP, Google Tasks itu seperti saudara kandung yang selalu ada tapi sering diabaikan. Aplikasi ini cuma 5-7 MB (ya, beneran sekecil itu) dan hampir nggak ada iklan sama sekali.
Yang aku suka: integrasi native-nya. Nambahin tugas langsung dari email di Gmail? Bisa. Ngecek deadline di Google Calendar? Langsung muncul. Sinkronisasinya juga instant, nggak perlu nunggu loading aneh-aneh.
Tapi memang sih, fiturnya sangat basic. Nggak ada label warna-warni, nggak ada Pomodoro timer, nggak ada habit tracker. Cuma list, sub-task, dan due date. Tapi untuk yang cari dead simple dan nggak mau pusing, ini jawabannya.
Google Tasks itu seperti sendok makan: nggak glamor, tapi selalu ada pas kamu butuh. Kalau kamu tipe orang yang cuma mau nulis tugas dan selesai, ini aplikasi untukmu.
2. Microsoft To Do: Warisan Wunderlist yang Nggak Ngecewain
Sebelum Wunderlist mati, itu adalah rajanya to-do list. Microsoft To Do adalah penerusnya, dan untungnya mereka nggak ngecewain. Ukuran aplikasi sekitar 15-20 MB, iklan nol besar, dan gratis sepenuhnya.
Kelebihannya ada di “My Day” – fitur yang tiap pagi ngingetin kamu pilih task mana yang mau dikerjain hari ini. Jadi nggak cuma list statis, tapi ada dorongan buat mikir ulang prioritas harian. Plus, sinkronisasi ke desktop (Windows/Mac) itu buttery smooth.
Ada satu fitur kecil yang sering diabaikan: attachments. Kamu bisa nempel file ke task, berguna banget kalau misalnya tugas kuliah atau kerjaan kantor butuh referensi dokumen.
Kekurangan:
- Widget-nya kurang customizable dibanding kompetitor
- Butuh login Microsoft (tapi sekarang siapa yang nggak punya?)
3. Todoist: Premium Feel di Versi Gratis
Oke, aku tahu Todoist punya versi premium. Tapi versi gratisnya? Bisa dibilang generous banget. Kamu tetep bisa bikun proyek, label, filter, dan collaboration dengan batas yang masih wajar (5 proyek per user). Ukuran aplikasi 25 MB, iklan nihil.
Alasan aku masukin Todoist di sini adalah UX-nya yang polished. Swipe gesture-nya intuitif, natural language input-nya akurat (“besok jam 3 sore” langsung ke-detect sebagai due date), dan desainnya minimalis tapi nggak boring.
Contoh konkret: aku pernah manage 3 project freelance sekaligus cuma di Todoist versi gratis. Label dan filter bawaannya cukup buat bikin sistem GTD (Getting Things Done) sederhana. Upgrade ke premium cuma buat yang butuh reminder custom atau banyak integration.
4. TickTick: Swiss Army Knife Produktivitas
Kalau kamu tipe yang “maunya semua tapi nggak mau ribet install banyak aplikasi”, TickTick jawabannya. Di versi gratis, kamu udah dapet: to-do list, kalender, Pomodoro timer, habit tracker, dan bahkan white noise buat fokus. Semua dalam satu aplikasi 30 MB.
Yang bikin aku kaget: kalender view-nya usable banget. Bisa lihat task dalam format mingguan atau bulanan tanpa perlu upgrade. Plus, widget-nya banyak pilihan dan customizable.
Tapi hati-hati: kaya fitur bisa jadi kutukan kalau kamu gampang overwhelmed. Aku saranin, pas pertama buka, matiin fitur yang nggak dipake dulu. Fokus ke task dulu, baru eksplor habit tracker nanti.
Spesifikasi Cepat TickTick (Gratis vs Premium):
| Fitur | Versi Gratis | Versi Premium |
|---|---|---|
| Jumlah List | 9 list + 1 Smart List | 299 list + 999 Smart List |
| Reminder per Task | 2 reminder | 5 reminder + custom |
| Upload File | 99 MB per file | 99 MB per file (sama) |
5. Simple Todo: Untuk Puris Minimalis Ekstrem
Ini aplikasi open source, ukurannya cuma 2 MB. Iya, bener, dua megabyte. Nggak ada iklan, nggak ada tracking, nggak minta permission aneh-aneh. Cocok banget buat HP entry-level atau yang paranoid sama privacy.
Tampilannya? Hitam putih, teks doang. Kamu nggak bakal nemu warna, icon, atau animasi. Tapi justru itu kekuatannya. Buka aplikasi, ketik task, enter, selesai. Nggak ada distraksi.
Yang perlu diingat: nggak ada sinkronisasi cloud. Jadi semua data cuma di HP. Kalau HP hilang, ya sudah. Tapi untuk task-task sederhana sehari-hari yang nggak perlu backup, ini lebih dari cukup.
6. Any.do: Interface Paling “Human-Friendly”
Any.do punya fitur unik bernama “Plan Your Day” di mana tiap pagi aplikasi bakal nanya “kapan kamu mau kerjain ini?” untuk setiap task. Ini bikin kamu mikir realistic soal waktu, bukan cuma nulis doang.
Ukuran aplikasi sekitar 20 MB. Iklan ada, tapi munculnya di bagian premium feature (bukan banner nyebelin). Versi gratis udah cukup buat daily driver: unlimited task, reminder, dan voice input.
Pengalaman pribadi: aku suka gesture-nya. Swipe kanan untuk selesai, swipe kiri untuk jadwal ulang. Natural banget. Widget-nya juga clean, tapi sayangnya di versi gratis cuma ada 1 tema.
7. Memorigi: The Hidden Gem
Memorigi itu aplikasi yang jarang disebut tapi quality-nya premium. Ukuran 18 MB, iklan nol, dan UI-nya paling cantik di antara semua aplikasi di list ini. Ada animasi halus, gradient warna yang eye-pleasing, dan gesture-based navigation.
Fitur uniknya: “time estimation” buat setiap task. Kamu bisa perkirakan berapa lama tugas itu selesai, trus aplikasi bakal ngasih total estimasi waktu per hari. Berguna banget buat yang sering underestimate waktu.
Tapi karena developer-nya solo, update-nya nggak se-frequent Google atau Microsoft. Beberapa bug minor mungkin bertahan beberapa minggu sebelum di-fix. Tapi untuk pengalaman visual yang enjoyable, ini worth it.
Bagaimana Memilih yang Tepat?
Nggak perlu bingung. Ini rule of thumb berdasarkan persona:
- Kantoran pakai Google Workspace? Langsung Google Tasks. Nggak perlu mikir.
- Butuh balance fitur & simplicity? Microsoft To Do atau Todoist.
- Suka eksperimen produktivitas? TickTick all-in-one.
- HP spek rendah atau anti ribet? Simple Todo atau Google Tasks.
- Fokus pengalaman visual? Memorigi tanpa pikir panjang.
Tips: Coba 2-3 aplikasi sekaligus selama 3 hari. Masukin task yang sama di semuanya. Yang paling sering kamu buka dan paling nyaman, itulah yang menang. Jangan pilih berdasarkan fitur paling banyak, tapi berdasarkan mana yang paling kamu enjoy pakai.
Penutup: Produktivitas Dimulai dari Konsistensi, Bukan Fitur
Setelah nyobain semua aplikasi di atas, kesimpulanku sederhana: aplikasi terbaik adalah yang kamu pakai setiap hari. Nggak ada gunanya TickTick fitur lengkap kalau kamu overwhelmed dan akhirnya nggak buka-buka. Nggak ada gunanya Simple Todo ringan kalau kamu butuh reminder kompleks.
Data konkret: aku track usage HP selama sebulan. Ternyata, aku buka Google Tasks 4x lebih sering daripada TickTick, padahal awalnya aku kira butuh fitur lengkap. Kenapa? Karena cepat dan nggak ada gesekan. Itu yang bikin konsisten.
Jadi, pilih salah satu, stick dengan itu minimal 2 minggu, baru deh evaluasi. Dan ingat: to-do list cuma alat. Yang ngerjain tugas tetep kamu, bukan aplikasinya. Jangan sampai cari aplikasi “sempurna” malah jadi alasan procrastinasi baru.




