Mahasiswa semester akhir itu unik. Di satu sisi, kamu harus ngurus skripsi yang bikin pusing. Di sisi lain, masih ada tugas kuliah, organisasi, dan nyari kerja. Semua deadline numpuk bareng-bareng. Kalau pakai aplikasi yang nggak pas, malah jadi tambah stres. Makanya, pilih antara Notion dan Trello nggak bisa asal-asalan. Ini soal nyawa akademikmu, bro.
Kenapa Pilihan Ini Bisa Break or Break Your Final Semester
Bayangin: kamu punya jadwal bimbingan skripsi tiap Selasa, deadline revisi Chapter 3 minggu depan, tugas kelompok mata kuliah elektif, dan tiba-tiba ada email dari HR minta kirim portofolio. Kalau semua catatan tersebar di notes HP, Google Docs, dan sticky notes di meja, pasti ada yang kelewat.
Notion dan Trello punya filosofi beda. Notion itu kayak all-in-one workspace—semua hal bisa masuk ke satu tempat, super custom. Trello fokus ke kanban board, visual dan simpel buat nge-track progres. Keduanya gratis buat mahasiswa, tapi efeknya beda banget tergantung gaya kerjamu.
Sebelum bahas lebih jauh, aku mau tegasin: nggak ada yang “paling bagus”. Yang ada adalah “paling cocok”. Mari kita bedah satu per satu.

Notion: Swiss Army Knife buat Kamu yang Suka Mikro-Manage
Kalau kamu tipe mahasiswa yang ingin semua hal terhubung—dari daftar pustaka skripsi, jadwal bimbingan, sampai catatan wawancara kerja—Notion itu surgamu. Aku pakai Notion sejak semester 6 dan nggak pernah ngerasa kurang.
Keunggulan Nyata di Lapangan
1. Database Relations yang Magis
Bayangin punya database “Jurnal Bacaan” yang langsung nyambung ke halaman “Bab 2: Tinjauan Pustaka”. Kamu bisa tag jurnal mana yang dipakai di sub-bab mana. Nggak perlu scroll PDF berjam-jam cuma buat nyari footnote yang hilang. Ini bener-bener nyelamatin waktu.
2. Template untuk Segalanya
Untuk skripsi, aku bikin template halaman yang isinya: Research Question, Metodologi, Data yang Dibutuhkan, dan Catatan Bimbingan. Tiap kali ada ide baru, tinggal duplikasi template. Konsisten dan nggak ada yang terlewat.
3. All-in-One Workspace
Kamu bisa embed Google Calendar, Figma, Miro, bahkan file PDF langsung di halaman Notion. Jadi nggak perlu buka 15 tab sekaligus. Portofolio pun bisa dibikin di Notion, terus dishare link ke HR. Simple tapi keliatan profesional.
Warning: Notion bisa jadi monster kalau kamu nggak disiplin. Terlalu banyak custom malah bikin lambat dan pusing sendiri.
Kelemahan yang Nggak Bisa Ditutupi
Notion butuh learning curve. Bukan aplikasi buka-langsung-paham. Aku sendiri butuh sekitar 2 minggu buat benar-benar nyaman. Kalau kamu tipe yang males setup, ini bisa jadi dealbreaker.
Offline mode juga masih payah. Kalau kampusmu sinyalnya lemot atau sering mati listrik, editing bisa jadi mimpi buruk. Data nggak selalu sync dengan lancar.
Trello: Kemenangan Visual buat Tim dan Deadline Killer
Kalau Notion itu lemari es yang isinya bisa kamu atur seenaknya, Trello itu whiteboard besar dengan sticky notes yang bisa digeser-geser. Visual, cepat, dan nggak perlu mikir.
Keunggulan Nyata di Lapangan
1. Kanban yang Intuitif
Untuk tugas akhir kelompok, bikin board “To Do – Doing – Done”. Semua anggota tim bisa lihat siapa lagi ngerjain apa. Nggak ada lagi alasan “eh, aku nggak tau kalau itu deadline-nya hari ini”. Transparan 100%.
2. Butler Automation
Fitur ini underrated banget. Kamu bisa set otomatis: kalau kartu “Revisi Bab 3” dipindah ke “Done”, secara otomatis bikin kartu baru “Kirim ke Pembimbing 2”. Ini mengurangi manual task yang bikin bosan.
3. Power-Up Gratis yang Berguna
Kalau akun gratis, kamu tetap bisa pakai Power-Up Calendar dan Card Repeater. Jadwal bimbingan tiap minggu bisa di-set repeat otomatis. Praktis.
Trello itu kaya motor matic: naik, gas, jalan. Nggak perlu pusing setting mesin. Tapi kalau kamu mau touring jauh, fitur-fitur dasarnya mungkin kurang.
Kelemahan yang Nggak Bisa Ditutupi
Struktur datanya datar. Nggak ada hierarki seperti Notion. Kalau skripsimu kompleks dengan banyak sub-bab dan sub-sub-bab, Trello akan terasa sempit. Kamu bisa aja bikin banyak board, tapi lama-lama jadi berantakan.
Text editor-nya juga sangat basic. Nggak bisa embed banyak hal. Catatan panjang di dalam kartu jadi nggak enak dibaca.
Head-to-Head: Mana yang Menang di Aspek Kritis?
Mari kita bandingin langsung di parameter yang paling relevan buat kamu.
| Aspek | Notion | Trello | Pemenang |
|---|---|---|---|
| Manajemen Skripsi Kompleks | Database, relation, gallery view. Bisa handle ribuan referensi. | List-based. Kurang cocok untuk struktur hierarkis dalam. | Notion |
| Kolaborasi Tim Cepat | Bisa, tui butuh setup. Permission agak rumit. | Drag-and-drop, real-time, super intuitif. | Trello |
| Kecepatan Setup | Butuh 30-60 menit buat bikin sistem kerja. | 5 menit sudah bisa pakai. | Trello |
| Portofolio & CV | Bisa publish halaman jadi website. Template banyak. | Nggak didesain untuk ini. | Notion |
| Offline Mode | Buruk. Harus sengaja set page offline. | Lebih baik. Kartu tetap bisa diakses. | Trello |
| Mobile App | Lambat, berat. | Ringan, cepat. | Trello |
Rekomendasi Berdasarkan Tipe Mahasiswa
Sekarang, ini bagian paling penting. Cari tipemu di bawah ini.
Kamu Pilih Notion Kalau:
- Skripsimu banyak teori dan referensi (misal: hukum, psikologi, sastra).
- Kamu butuh satu tempat untuk semua: akademik, portofolio, dan catatan pribadi.
- Kamu suka mikro-manage dan nggak masalah invest waktu setup awal.
- Kamu sering bekerja sendiri atau kolaborasi dengan 1-2 orang saja.
Contoh konkret: Mahasiswa Sastra Inggris yang lagi ngerjain skripsi analisis novel. Bisa bikin database karakter, tema, dan kutipan langsung nyambung ke bab analisis.
Kamu Pilih Trello Kalau:
- Tugas akhirmu berbasis proyek dan tim (misal: teknik, desain, event).
- Kamu butuh visual clarity tanpa setup ribet.
- Kamu mobilitas tinggi, sering cek progress dari HP.
- Kamu punya banyak deadline repetitive (bimbingan, rapat, submit laporan).
Contoh konkret: Mahasiswa Teknik Mesin yang kerjain desain prototype. Tim 5 orang, masing-masing punya task di board: Rancang – Simulasi – Fabricasi – Testing.
Hybrid Approach: Bisa Nggak Pakai Dua-duanya?
Bisa, dan ini yang aku lakukan semester terakhir. Notion untuk knowledge management (bacaan, ide, portofolio). Trello untuk execution tracking (deadline, task harian, kolaborasi tim).
Cara praktisnya: bikin kartu Trello “Revisi Bab 2”, terus di deskripsi kartu, embed link halaman Notion yang berisi detail revisi lengkap. Dapat manfaat keduanya tanpa harus pilih.
Pro Tips dari Orang yang Pernah Kena Burnout
Jangan over-engineer sistemmu. Aku pernah bikin database Notion 10 level relasi, akhirnya malah nggak kepake. Mulai simple.
Untuk Notion, pakai template gratis dari mahasiswa lain. Cari di Reddit atau Twitter. Nggak usah bikin dari nol.
Untuk Trello, manfaatkan label warna dengan konsisten. Merah = urgent, Kuning = waiting for review, Hijau = done. Paten.
Kesimpulan: Ambil Keputusan Cepat
Kalau kamu punya waktu 2 minggu libur sebelum semester padat, coba Notion. Build sistem sekali, nikmati seumur hidup. Kalau kamu sudah di tengah kegilaan dan butuh solusi besok juga, download Trello. Jangan pikir panjang.
Ingat, aplikasi hanya alat. Yang penting konsistensi pakainya. Aku pernah lihat mahasiswa pakai Excel aja tetep lulus cum laude. Jadi, pilih yang bikin kamu produktif, bukan yang bikin prokrastinasi cuma gara-gara setup terlalu perfectis.
Final verdict: Notion untuk mahasiswa peneliti dan solo worker. Trello untuk mahasiswa proyek dan tim fighter. Kalau bisa, pakai keduanya di area berbeda.
Sekarang, tutup artikel ini dan langsung coba salah satu. Jangan jadi mahasiswa yang habis waktu baca review tapi nggak pernah action. Good luck, dan semoga lulus tepat waktu!




