Freelancer dan masalah waktu? Udah kayak teks yang nempel di dinding. Satu jam mau fokus kerja, tiba-tiba notifikasi client masuk. Lupa ada deadline sore karena tadi sibuk revisi proyek lain. Akhirnya lembur lagi, stres lagi. Tenang, kamu nggak sendirian. Dan yang paling penting: ini bukan soal disiplin doang, tapi tools yang bener.
Selama bertahun-tahun nyobain bermacam-macam aplikasi, dari yang simpel kayak sticky notes digital sampai yang kompleks kayak mission control NASA, ada satu pelajaran penting: aplikasi paling canggih belum tentu yang paling berguna. Yang kamu butuhkan adalah alat yang paham kerjaan freelance: fleksibel tapi tetap punya struktur, ringan tapi nggak bikin lupa prioritas.
Di artikel ini, gue bakal kasih rekomendasi aplikasi pembuat jadwal harian yang udah gue test sendiri, lengkap dengan kelebihan, kekurangan, dan tips pakainya yang praktis. Tanpa basa-basi, langsung aja kita mulai.
Kenapa Freelancer Susah Banget Atur Waktu?
Sebelum masuk ke aplikasi, penting banget ngerti dulu kenapa kamu—dan banyak freelancer lain—seringkali kalah sama jam. Bukan karena males, tapi karena tantangannya emang unik.
Pertama, jam kerja nggak pasti. Client A nelpon jam 9 pagi, client B kirim brief jam 10 malem. Nggak ada pembatas jelas antara “kerja” dan “istirahat”.
Kedua, multitasking yang palsu. Buka laptop mau ngerjain desain, tiba-tiba keinget harus kirim invoice. Pindah ke invoice, lalu keinget ada email belum dibalas. Akhirnya jam 3 sore, desain belum sentuh.
Ketiga, estimasi waktu yang ngawur. “Ah, ini mah cuma sejam.” Ternyata butuh tiga jam karena revisi nggak terduga. Domino effect ke semua jadwal.

Kriteria Aplikasi Jadwal yang Pas untuk Freelancer
Nggak semua aplikasi to-do list cocok buat freelance. Yang kamu butuhkan itu punya setidaknya lima hal ini:
- Fleksibilitas tugas: Bisa tambahin task dadakan tanpa ribet, tapi juga bisa atur ulang prioritas dengan drag-and-drop.
- Integrasi: Sambung ke Google Calendar, Slack, atau tools yang udah kamu pakai. Nggak mau kan bolak-balik app?
- Time tracking (opsional tapi penting): Biar kamu sadar, “Eh, ternyata ngerjain logo ini udah makan 4 jam.”
- Cross-platform: Bisa diakses di HP, laptop, bahkan smartwatch. Freelancer kan mobile.
- Nggak bikin overwhelmed: Interface bersih, nggak ada 100 tombol yang bikin bingung.
Kalau aplikasi itu kelewat ribet, kamu malah akan menghindarinya. Percaya deh, udah sering gue alami.
Rekomendasi Aplikasi Jadwal Harian Terbaik
1. Todoist: Buat Kamu yang Suka Simpel tapi Powerful
Todoist itu kayak Swiss Army Knife-nya manajemen tugas. Nggak terlalu banyak embel-embel, tapi di belakang layar dia punya sistem yang canggih.
Keunggulan: Natural language processing-nya juara. Ketik “Desain logo jam 2 sore setiap hari Senin” langsung jadi task berulang. Ada fitur Karma yang bikin ngerjain task jadi kayak main game, ada poin dan level. Seru, tapi efektif buat motivasi.
Kekurangan: Versi gratis terbatas. Prioritas, label, dan filter bagus-bagusnya di versi Pro (sekitar Rp 80.000/bulan). Kalau cuma butuh list biasa, sih cukup. Tapi buat power user, mesti bayar.
Best for: Freelancer yang punya banyak client kecil dengan task berulang. Designer, copywriter, developer yang mau fokus ke eksekusi.
Pro Tips: Pakai filter “Overdue & today” buat lihat apa aja yang pending. Jangan lupa tambahin emoji di nama project biar visualnya menarik dan cepat dikenali.
2. Notion: All-in-One Workspace yang Bisa Dicustom Sesukamu
Notion itu bukan cuma aplikasi jadwal. Dia adalah lego-nya produktivitas. Bisa jadi to-do list, database client, knowledge base, bahkan website sederhana.
Keunggulan: Customization-nya tanpa batas. Kamu bisa bikin dashboard dengan kalender, task list, dan database project dalam satu halaman. Ada template freelancer gratis yang udah bagus banget. Gratis untuk personal use dengan limit block yang cukup besar.
Kekurangan: Learning curve-nya curam. Bisa habis 2-3 jam cuma buat setup awal. Kalau nggak hati-hati, malah jadi nggak produktif karena terlalu sibuk ngerapihin Notion-nya.
Best for: Freelancer yang suka eksperimen dan butuh sistem kompleks. Cocok untuk project manager, konsultan, atau yang punya banyak sub-proyek.
Pro Tips: Mulai dari template “Freelancer Dashboard” yang udah ada. Jangan bikin dari nol. Pakai database relational buat hubungin task sama client, jadi bisa lihat semua task per client dalam satu klik.
3. Trello: Visual Board untuk Kamu yang Mikir dalam Gambar
Kalau kamu tipe orang yang mikir, “Gue harus lihat dulu posisi task ini di pipeline,” maka Trello adalah jawabannya. Sistem kanban-nya bikin semua transparan.
Keunggulan: Super visual. Drag-and-drop card dari “To Do” ke “Doing” ke “Done” itu satisfying banget. Power-Ups-nya banyak, bisa integrasiin dengan Slack, Google Drive, bahkan time tracker kayak Clockify.
Kekurangan: Buat task harian yang sederhana, Trello kadang terlalu berat. Lebih cocok untuk project panjang, bukan quick daily planning. Versi gratis cuma boleh 10 board per workspace.
Best for: Freelancer yang kerjanya project-based. Videographer, event organizer, atau developer yang pakai agile.
Pro Tips: Bikin board khusus “Daily Standup” terpisah dari board project. Card di sisi cuma berisi task harian. Pakai label warna buat prioritas, jangan buat banyak list yang bikin scroll terus.
Ingat: Trello itu kaya papan tulis digital. Kalau kamu nggak disiplin update card-nya, dia akan jadi papan tulis kuno yang penuh debu.
4. Google Calendar + Tasks: Gratis, Cepat, dan Selalu Ada
Jangan remehkan kombinasi ini. Buat freelancer yang minimalist, pakai yang udah ada di Gmail itu cukup. Gue sendiri masih pakai buat client meeting dan time blocking.
Keunggulan: Gratis, integrasi sempurna dengan ekosistem Google. Bisa buat time blocking dengan drag-and-drop langsung di kalender. Tasks-nya muncul di samping, simple tapi cukup. Notifikasi di HP reliable banget.
Kekurangan: Fitur task management-nya sangat dasar. Nggak ada sub-task, nggak ada label, nggak ada attachment. Kalau butuh lebih dari checklist, ini bakal terasa kurang.
Best for: Freelancer pemula yang butuh solusi cepat tanpa belajar app baru. Atau buat jadi layer tambahan di atas apps lain buat meeting dan reminder.
Pro Tips: Pakai warna berbeda per client di kalender. Buat task di Google Tasks, lalu tarik ke slot waktu tertentu di Calendar buat time blocking. Jangan lupa set default notification 15 menit sebelum meeting.
5. Sunsama: Mindful Daily Planning (Premium, tapi Worth It)
Sunsama itu bukan sekadar to-do list. Dia ngajarkan kamu mindful planning. Setiap pagi, dia bakal nanya, “Mau fokus ke apa hari ini?” dan “Berapa lama ini bakal butuh waktu?”
Keunggulan: Interface-nya super clean. Bisa pull task dari Trello, Asana, GitHub, dan masukin ke hari ini. Ada daily shutdown ritual buh nge-review apa yang udah dikerjain. Time tracking-nya otomatis saat kamu start task.
Kekurangan: Harganya $20/bulan (sekitar Rp 300.000). Mahal buat freelancer pemula. Belum ada versi gratis selain trial 14 hari.
Best for: Freelancer yang udah established, penghasilan stabil, dan butuh alat buat maintain work-life balance. Cocok buat yang udah overwhelmed sama apps lain.
Pro Tips: Manfaatin daily objective. Cuma boleh satu objective per hari. Ini bikin kamu fokus dan nggak terpecah. Pakai channel-nya buat pisah kerjaan client dan personal development.
Freemium vs Paid: Mana yang Cocok Buat Kamu?
Biar nggak bingung, gue bikin tabel perbandingan biaya dan fitur kunci:
| Aplikasi | Versi Gratis | Harga Premium | Fitur Unggulan Berbayar |
|---|---|---|---|
| Todoist | ✅ (80 tasks/project) | ~Rp 80k/bulan | Label, filter, reminder custom |
| Notion | ✅ (Unlimited blocks) | ~Rp 80k/bulan | Version history, unlimited upload |
| Trello | ✅ (10 boards) | ~Rp 120k/bulan | Power-Ups tak terbatas, view lebih banyak |
| Google Calendar | ✅ (Full) | Gratis selamanya | – |
| Sunsama | ❌ (Cuma trial) | ~Rp 300k/bulan | Semua fitur (nggak ada tier) |
Kalau baru mulai, mulai dari yang gratis dulu. Kebiasaan dulu, baru investasi.
Tips Praktis Atur Jadwal Harian (Biar Nggak Cuma Jadi Daftar Warna-Warni)
Punya aplikasi bagus tapi tetap nggak produktif? Mungkin masalahnya di cara pakainya. Ini ritual yang gue pakai sendiri:
- Planning malam sebelum: Sebelum tidur, luangkan 10 menit buat lihat besok ada apa aja. Ini bikin otak tenang dan tidur lebih nyenyak.
- Time blocking, bukan to-do listing: Jangan cuma tulis “Buat proposal”. Tulis “Buat proposal: 10.00-11.30 WIB”. Kasih slot waktu konkret.
- Underpromise, overdeliver (dalam estimasi): Kalau kirain butuh 1 jam, blok 1.5 jam. Kamu nggak akan pernah tahu ada gangguan apa.
- Batching task: Jawab email cuma jam 12 siang dan jam 4 sore. Jangan sepanjang hari. Notifikasi dimatiin selain itu.
Intinya: Jadwal itu bukan penjara. Jadwal itu permission buat kamu bilang “tidak” sama hal-hal yang nggak penting hari itu.
Kesimpulan: Aplikasi Mana yang Paling Pas?
Nggak ada jawaban absolut. Tapi kalau gue harus kasih rekomendasi berdasarkan fase karirmu:
- Freelancer pemula (0-6 bulan): Google Calendar + Tasks. Gratis, cepat, dan nggak ada alasan buat nggak pakai.
- Freelancer yang udah stabil (6 bulan – 2 tahun): Todoist atau Trello. Investasi kecil tapi impact besar buat organize task.
- Freelancer power user atau punya tim kecil: Notion. Butuh waktu setup, tapi sekali jadi, semua terkoneksi.
- Freelancer established yang burnout: Sunsama. Mahal, tapi bayar ketenangan pikiran itu nggak ada harganya.
Yang terpenting: mulai sekarang. Jangan nunggu app yang sempurna. App yang sempurna itu cuma ada di kepala, dan kepala kita itu suka lupa. Pilih satu, pakai 7 hari, baru evaluasi. Good luck!



