Beberapa tahun terakhir ini, saya mencoba belasan—kalau bukan puluhan—aplikasi catatan. Dari yang sederhana seperti Apple Notes, sampai yang super kompleks seperti Notion. Tapi ada satu aplikasi yang selalu bikin saya “kembali lagi” setiap kali kangen tampilan bersih dan fokus: Bear.
Masalahnya, kebanyakan aplikasi catatan itu ya… jelek. Atau kalau bagus, malah lambat dan penuh fitur nganggur yang nggak pernah dipakai. Bear hadir di tengah-tengah itu: cantik, cepat, tapi nggak bikin otak pusing. Cocok banget buat kamu yang hidup di ekosistem Apple dan benci kompromi antara estetika dan fungsi.
Nah, di review kali ini, saya akan spill the tea soal Bear: apa yang bikin saya jatuh cinta, apa yang bikin kesel, dan apakah worth it untuk upgrade ke versi Pro. Tanpa basa-basi lagi, mari kita bedah.

Pertama Kali Buka: “Wah, Ini Baru Namanya Aplikasi Catatan”
Saat pertama kali instal Bear di Mac saya, reaksi pertama adalah: “Akhirnya, ada yang mau serius soal tipografi.” Font-nya pakai San Francisco Mono yang bikin tulisan terasa premium. Spasi, margin, dan warna highlight-nya pas. Nggak terlalu sempit, nggak terlalu lebar.
Bedanya dengan Apple Notes? Bear itu minimalist tapi nggak empty. Sidebar-nya ramping, toolbar-nya hilang kalau nggak perlu, dan transisi antar catatan halus banget. Di iPhone, pengalaman swipe-nya juga natural. Kamu bisa geser kiri-kanan buat navigasi tanpa perlu mikir.
Yang paling saya suka: tidak ada ikon toolbar nganggur. Semua kontrol muncul pas kamu butuh. Ini desain yang mikirin user-nya, bukan cuma sekadar “cantik di screenshot”.
Fitur Inti yang Bikin Ketagihan
Kalau kamu ekspektasi Bear punya fitur sekompleks Notion, langsung aja cabut sekarang. Bear itu fokus: catatan cepat, terorganisir rapi, dan sinkronisasi mulus. Tapi di ranahnya, dia juaranya.
1. Tagging System yang Bikin Apple Notes Malu
Di Bear, kamu nggak perlu bikin folder. Cukup taruh tag di mana saja dalam catatan, misalnya #project/website atau #ideas/videos. Tag bisa bersarang otomatis, jadi struktur folder terbentuk sendiri di sidebar.
Saya pakai ini buat bedakan catatan pribadi, kerjaan klien, dan research. Semua campur dalam satu folder, tapi tetap terorganisir rapi. Beda dengan Apple Notes yang tagging-nya masih “kaku” dan nggak bisa nested.
2. Markdown Asli, Bukan Siasat
Bear pakai markdown murni. Nggak perlu klik ikon B untuk bold, cukup ketik **teks**. Saat kamu export ke PDF atau DOCX, formatting-nya tetap konsisten. Ini lifesaver buat saya yang sering pindah-pindah platform.
Dan yang paling keren: kamu bisa switch antara preview mode dan editor mode secara real-time. Jadi kalau lagi fokus nulis, nggak ada elemen ganggu. Tapi kalau mau lihat hasil akhir, tinggal swipe.
3. Sinkronisasi iCloud yang Cepat, Bikin Lupa Kalau Nggak Punya Internet
Saya pernah tes: buat catatan di iPhone, langsung buka Mac—catatan sudah ada dalam < 3 detik. Nggak perlu refresh manual. Bear pakai iCloud sebagai backend, jadi nggak perlu login lagi atau configure server sendiri.
Tapi ingat: ini juga jadi batasan. Kalau kamu pakai Android atau Windows, lupakan Bear. Dia benar-benar eksklusif untuk Apple ecosystem.
Bear vs Kompetitor: Mana yang Cocok untukmu?
Mari kita realistis. Bear nggak untuk semua orang. Saya buat perbandingan langsung berdasarkan penggunaan sehari-hari.
Bear vs Apple Notes
Apple Notes gratis, punya scan dokumen, dan kolaborasi. Tapi…
- Bear jauh lebih cepat untuk catatan teks panjang.
- Export options Bear lebih lengkap (PDF, DOCX, HTML, Markdown).
- Tagging Bear lebih powerful dan fleksibel.
- Tampilan Bear lebih konsisten di semua device.
Kesimpulan: Pilih Bear kalau prioritas utama adalah writing experience dan organisasi pribadi. Pilih Apple Notes kalau butuh kolaborasi tim atau scan dokumen.
Bear vs Notion
Notion itu all-in-one: database, kanban, wiki, calendar. Bear? Cuma catatan. Tapi…
- Bear buka dalam 1 detik, Notion bisa 5-10 detik (tergantung internet).
- Bear nggak perlu setup block, bikin page baru tinggal ketik.
- Bear nggak ada learning curve. Buka langsung paham.
Kesimpulan: Notion untuk project management berat. Bear untuk thinking tool dan penulisan cepat.
Bear vs Obsidian
Kedua-duanya pakai markdown dan local-first. Tapi Obsidian punya plugin ecosystem yang masif, sementara Bear lebih “opinionated”.
Bear lebih cantik di out-of-the-box, sementara Obsidian butuh setup theme dan plugin dulu. Tapi Obsidian punya graph view dan backlink yang lebih advanced.
Kesimpulan: Bear untuk yang mau langsung pakai tanpa ribet. Obsidian untuk power user yang suka customize.

Harga dan Value Proposition: Worth It atau Overpriced?
Bear punya dua versi: Free dan Pro (berlangganan). Free cukup buat lihat-lihat, tapi fitur kuncinya ada di Pro.
Versi Free: Cuma Buat Cicip
- Maksimal beberapa note (terbatas).
- Sinkronisasi hanya 1 device.
- Tidak bisa export ke format tertentu.
Jujur, versi free-nya nggak ada gunanya buat produktivitas nyata. Cuma buat kamu coba UI-nya doang.
Versi Pro: $2.99/bulan atau $29.99/tahun
- Catatan unlimited.
- Sinkronisasi semua device Apple (iPhone, iPad, Mac, Apple Watch).
- Export ke PDF, DOCX, HTML, JPG, dan Markdown.
- Custom themes dan icon.
- More advanced markup options.
Dengan harga segitu, menurut saya sangat worth it kalau kamu memang nulis atau capture ide setiap hari. Bayangin: sehari 10 ribu untuk aplikasi yang jadi “second brain” utama. Lebih murah daripada kopi latte.
Tapi kalau cuma buat catatan belanja atau list tugas sekolah, mahal banget. Apple Notes sudah cukup.
Kelebihan Lain yang Sering Dilewatkan
Selain fitur utama, ada beberapa detail kecil yang bikin pengalaman makin enak:
- Note linking: Kamu bisa link antar catatan dengan
[[nama catatan]]. Ini bikin wiki pribadi. - Archive: Catatan lama bisa di-archive, jadi nggak mengganggu pencarian tapi tetap ada.
- Custom shortcuts: Bisa set global shortcut buat buka quick note dari mana saja.
- Apple Watch app: Bisa lihat catatan penting di pergelangan tangan.
Tapi ada juga kekurangan yang perlu dipertimbangkan:
- Tidak ada kolaborasi: Nggak bisa share note untuk diedit bersama.
- Tidak ada web version: Kalau Mac rusak, nggak bisa akses dari browser.
- Apple-only: Nggak ada Android, Windows, atau Linux.
- Search di attachment terbatas: Kalau attach PDF, nggak bisa search di dalamnya.
Untuk Siapa Sih Bear Ini?
Setelah pakai bertahun-tahun, saya bisa bilang Bear itu bukan swiss army knife. Dia adalah chef’s knife—spesifik tajam.
Bear adalah aplikasi catatan untuk orang yang menghargai proses menulis lebih dari sekadar menyimpan informasi. Kalau kamu seorang penulis, desainer, developer, atau pekerja kreatif yang butuh “pikiran kedua” yang cantik dan cepat, Bear adalah investasi terbaik. Tapi kalau kamu butuh kolaborasi tim atau cross-platform, cari tempat lain.
Saya sendiri pakai Bear untuk:
- Capture ide random di iPhone.
- Draft artikel dan newsletter.
- Research dan bookmark link (pakai tag
#read-later). - Personal journal (encrypted, aman).
Sementara untuk project management tim, saya tetap pakai Notion. Jadi Bear jadi companion, bukan satu-satunya alat.

Verdict Akhir: Beli atau Lupakan?
Jadi, apakah Bear worth it? Jawabannya tergantung tiga pertanyaan ini:
- Apakah kamu pakai iPhone dan Mac setiap hari?
- Apakah kamu menulis atau capture ide minimal 5 kali sehari?
- Apakah kamu mau bayar $30/tahun untuk pengalaman yang lebih baik?
Kalau jawabannya ya semua, langsung download dan coba versi Pro 7 hari. Kalau ada satu nggak, skip aja.
Untuk saya pribadi, Bear adalah aplikasi yang selalu ada di dock Mac dan home screen iPhone. Dia bukan yang paling powerful, tapi dia yang paling saya suka pakai. Dan di dunia produktivitas, consistency beats power setiap waktu.
Semoga review ini membantu keputusanmu. Kalau ada pertanyaan spesifik soal workflow atau fitur Bear, drop aja di komentar. Saya jawab dengan pengalaman nyata, bukan bacaan manual.



