8 tahun. Segitu lama waktu yang saya habiskan bersama Evernote. Dari jadi mahasiswa yang nyatet seminar, sampai jadi konsultan yang manajemen proyek tiap hari. Tapi tahun lalu, saya mutusin untuk cabut total. Bukan karena isu besar kayak keamanan data atau rebranding yang bikin ribet. Justru karena hal-hal kecil yang lama-lama jadi gatal di hati. Kelemahan-kelemahan yang jarang dibahas, tapi bikin produktivitas justru macet di tengah jalan. Dan ya, Obsidian jadi pelarian yang ternyata nggak cuma sekadar alternatif.
Ini bukan artikel clickbait “Evernote jelek, Obsidian keren”. Ini cerita nyata soal bagaimana alat yang dulu jadi andalan bisa jadi beban, dan kenapa solusi yang lebih “ribet” justru bikin hidup lebih simpel.
Kelemahan Evernote yang Nggak Ditulis di Review Biasa

Kebanyakan review ngomongin harga, tampilan, atau sync error. Tapi ada tiga masalah fundamental yang saya temuin setelah bertahun-tahun:
1. Ketergantungan pada Format Proprietary
Evernote nyimpen catatan dalam format ENML (Evernote Markup Language), yang basically HTML dengan bumbu-bumbu mereka sendiri. Kenapa ini masalah? Karena sekali catatan lu masuk ke Evernote, keluarnya susah. Export ke HTML? Hasilnya berantakan. Export ke plain text? Semua format ilang. Ini bikin vendor lock-in yang nyata. Lu nggak bisa sembarang pindah tanpa ngeluarin waktu berjam-jam buat cleanup data.
Contoh konkret: Saya punya 2.300 catatan. Waktu coba export, 30% gambar nggak ikut ke-path yang bener. 15% attachment corrupt. Bayangin deh, itu data seumur hidup kerja.
2. Pencarian yang “Canggih” Tapi Superficial
Evernote punya fitur pencarian canggih: tag, notebook, saved searches, boolean operators. Kedengarannya keren. Tapi di lapangan, pencarian full-text-nya lambat banget kalo catatan udah ribuan. Belum lagi nggak support regex, nggak bisa search di dalam PDF dengan akurat, dan hasil pencarian sering nggak relevan.
Pernah nyari “invoice client X”, malah muncul catatan lama dari 2015 yang cuma sekali mention kata “client”. Frustrasi tingkat tinggi.
3. Tagging System yang Stuck di Era 2010
Evernote cuma punya tagging flat. Nggak ada hierarki, nggak ada nested tag yang proper. Bisa sih bikin tag hierarchy di sidebar, tapi itu cuma visual. Di backend, semua tag tetap flat. Ini bikin organisasi makin komplek jadi chaos. Kalo lu punya 200+ tag, navigasinya jadi mimpi buruk.
Ontologi knowledge management modern itu butuh hierarki. Butuh hubungan antar-konsep. Evernote nggak ngerti ini.
Mengapa Obsidian Jadi Solusi yang Tepat (Bukan Hanya Hype)

Obsidian datang dengan filosofi beda: local-first, plain text, markdown. Ini bukan cuma jargon keren. Ini solusi langsung buat tiga masalah di atas.
Local-First = Anda Punya Data Anda
Semua file di Obsidian adalah file .md biasa di folder lokal. Kalo besok Obsidian bangkrut, aplikasi lu tetep bisa dibuka pakai VS Code, Notepad++, atau aplikasi markdown lain. Nggak ada vendor lock-in. Export? Tinggal copy-paste folder. Done.
Sync: Obsidian punya sync berbayar, tapi opsional. Lu bisa pakai iCloud, Dropbox, Git, atau NAS sendiri. Fleksibilitas total.
Markdown = Format Universal
Markdown bisa dibuka di mana-mana. Dari GitHub, WordPress, Notion, sampai static site generator. Catatan lu nggak pernah jadi “sandera” satu platform.
Obsidian juga extend markdown dengan fitur mereka: internal linking, block reference, dll. Tapi intinya tetap file teks biasa. Kalo lu nggak suka fitur itu, file lu tetap readable.
Graph View: Melihat Hubungan yang Tersembunyi
Ini game-changer. Obsidian otomatis generate visual graph hubungan antar-catatan berdasarkan internal link. Tiba-tiba, lu bisa lihat cluster knowledge lu. Mana yang underdeveloped, mana yang jadi pusat informasi. Ini insight yang Evernote nggak bisa kasih.
Perbandingan Spesifik: Evernote vs Obsidian
Biar nggak ngomong ngalor-ngidul, ini perbandingan data konkret:
td>Kecepatan Pencarian (10k notes)
| Aspek | Evernote (Premium) | Obsidian (Free + Sync) |
|---|---|---|
| Biaya per Tahun | $109.99 (sekitar Rp 1,7 juta) | $0 (sync via cloud) atau $96 (Obsidian Sync) |
| Format Data | Proprietary (ENML) | Plain Markdown (.md) |
| 2-5 detik per query | 0.1-0.3 detik (ripgrep based) | |
| Tagging | Flat tags only | Nested + hierarchical + inline tags |
| Offline Access | Cached, but limited | Full native offline |
| Vendor Lock-in | Very High | None |
| Mobile App | Polished, native | Good, but less polished |
| Learning Curve | Low | Moderate to High |
Proses Migrasi: Dari Evernote ke Obsidian (Step-by-Step)
migrasi 2.300 catatan itu nggak semudah satu klik. Tapi worth it. Ini roadmap yang saya pakai:
- Export dari Evernote: Pilih notebook per notebook, export sebagai ENEX. Jangan export semua sekaligus, nanti error.
- Convert ENEX ke Markdown: Pakai tool gratis Yarle atau Evernote2md. Yarle lebih akurat soal attachment dan tag.
- Import ke Obsidian: Hasil convert adalah folder markdown. Buka langsung sebagai vault di Obsidian.
- Clean-up Tags: Evernote punya tag dengan spasi. Obsidian nggak suka. Bulk rename pakim regex:
tag: "Project A" -> #project-a. - Re-link Internal References: Kalo lu punya internal link di Evernote, ini manual. Tapi biasanya cuma 5-10% catatan, jadi nggak terlalu gila.
- Setup Sync: Saya pakai iCloud untuk vault utama. Obsidian Sync untuk mobile (biar cepat).
Total waktu: sekitar 12 jam untuk 2.300 catatan. Tapi itu one-time investment. Sejak pindah, maintenance-nya jauh lebih sedikit.
Kelebihan Evernote yang Masih Bikin Kangen
Sejujurnya, Evernote nggak sepenuhnya jelek. Ada hal-hal yang masih lebih baik:
- Web Clipper: Evernote Web Clipper masih raja. Bisa clip simplified article, full page, bookmark, dan hasilnya lebih rapi dibanding Obsidian Clipper (yang masih basic).
- Email to Note: Fitur forward email langsung jadi catatan di Evernote super stabil. Di Obsidian butuh plugin + setup IFTTT/Zapier.
- Mobile App: Aplikasi iOS/Android Evernote lebih polished, lebih cepat buka catatan besar, dan offline sync-nya lebih seamless untuk user non-teknis.
- Collaboration: Evernote punya Work Chat dan shared notebook yang sederhana. Obsidian? Collaboration-nya masih via Git atau plugin yang belum mature.
Jadi kalo lu sangat bergantung pada tiga hal di atas, pikir-pikir lagi. Atau pakai hybrid: Evernote untuk capture, Obsidian untuk permanent notes.
Kapan Anda Harus Tetap di Evernote?
Jujur, nggak semua orang butuh pindah. Kalo lu:
- Punya < 500 catatan
- Nggak peduli soal format data dan vendor lock-in
- Butuh solusi jalan keluar yang simpel dan nggak mau belajar markdown
- Sangat bergantung pada Web Clipper dan email forwarding
Maka, tetap aja di Evernote. Bayar premium dan enjoy. Migrasi itu mahal (waktu dan energi). Tapi kalo lu udah ngerasa “ada yang ganjal” dan punya > 1000 catatan, itu tanda sistem lu udah nggak skalabel.
Warning: Jangan pindah ke Obsidian cuma karena hype “PKM” (Personal Knowledge Management). Pindah karena lu butuh kontrol penuh atas data dan sistem yang lebih transparan. Hype akan pudar, tapi masalah data portability itu nyata.
Kesimpulan: Pindah atau Bertahan?
Saya pindah karena saya butuh sistem yang tumbuh bareng saya. Evernote itu seperti apartemen furnished: enak, praktis, tapi lu nggak bisa renovasi dinding. Obsidian itu tanah kosong: lu harus bangun sendiri, tapi arsitekturnya bebas.
Setahun di Obsidian, saya punya 2.800 catatan, 1.500 internal links, dan graph view yang jadi peta otak saya. Kecepatan pencarian bikin saya bisa retrieve info dalam 0.5 detik. Dan yang paling penting: saya tidur lebih nyenyak karena tau data saya nggak sandera vendor.
Tapi pindah butuh effort. Lu harus ready untuk belajar markdown, setup plugin, dan mikir ulang soal workflow. Kalo lu siap, hasilnya transformative. Kalo nggak, ya bakal frustasi dan balik lagi ke Evernote.
Jadi, coba evaluasi dulu: apa yang bikin lu frustrasi di Evernote? Kalo jawabannya “sistemnya nggak fleksibel dan aku nggak punya kontrol data”, maka Obsidian adalah jawabannya. Kalo cuma “aku nggak suka harganya”, mungkin cukup downgrade ke free tier atau cari diskon.
Pilihan ada di tangan lu. Toh, produktivitas itu personal. Yang penting, pilih alat yang bikin lu fokus kerja, bukan malah sibuk ngurusin alatnya.




