Lu juga ngerasa pusing milih aplikasi manajemen tugas? Todoist terlalu mahal, Notion terlalu rumit, Google Tasks terlalu sederhana? Gue pernah di situ. Setelah nyobain hampir dua puluh aplikasi, gue nemu TickTick dan langsung bilang, “Ini dia yang gue cari-cari.”
TickTick itu bukan cuma aplikasi to-do list biasa. Dia all-in-one yang bikin lo bisa ngatur tugas, kalender, timer, bahkan tracking kebiasaan dalam satu tempat. Tapi apakah dia benar-benar sebagus kedengarannya? Gue bakal spill semuanya—kelebihan, kekurangan, dan kapan lo harus pindah ke TickTick.
Mengapa TickTick Bikin Gue Terkesima

Pertama kali buka TickTick, gue langsung disambut interface yang bersih tapi nggak kosong. Semua fitur terasa ada di tempat yang tepat. Nggak kayak app lain yang terlalu minimalis sampe nggak berguna, atau terlalu ramai sampe bikin pusing.
Yang bikin gue kepincut: versi gratisnya udah sangat powerful. Lo bisa bikin unlimited task, subtask, list, dan bahkan pakai kalender view tanpa bayar sepeser pun. Bandingin sama Todoist yang batasi lo cuma 5 project di versi gratis. Ini beda kelas.
Fitur Utama yang Bikin Ketagihan
Todo List yang Cerdas dan Fleksibel
Todo list di TickTick itu kayak Swiss Army Knife. Lo bisa pakai natural language processing kayak “Submit laporan besok jam 3 sore” dan dia otomatis ngatur deadline dan reminder. Tapi yang lebih keren: subtask bisa jadi checklist independen dengan deadline dan assignee masing-masing.
Gue pernah manage project website klien dengan satu task utama “Launch Website”, terus di dalamnya ada 15 subtask dari desain, konten, sampai testing. Tiap subtask punya deadline beda-beda. Semua terorganisir rapi tanpa bikin gue mikir.
Kalender Terintegrasi yang Sebenarnya
Ini yang jarang app todo list punya: kalender view yang beneran fungsional. Lo bisa lihat task lo dalam format daily, weekly, monthly, atau bahkan timeline view kayak di project management tool. Dan lo bisa drag-and-drop task langsung di kalender buat geser deadline.
Gue hubungin Google Calendar sama TickTick, dan semua event gue muncul di satu layar. Nggak perlu bolak-balik app lagi. Pro tip: lo bisa bikin time block langsung di TickTick cuma dengan tambah task dengan durasi tertentu.
Pomodoro Timer Bawaan (Nggak Perlu App Lagi!)
Gue dulu pakai Forest dan Focus Keeper secara terpisah. Sekarang? Tinggal klik tombol play di tiap task dan timer Pomodoro 25 menit langsung jalan. Ada white noise-nya, ada statistik fokus harian, mingguan, bahkan bisa sync sama Apple Health.
Statistiknya detail banget: berapa jam fokus, berapa session yang selesai, task apa yang paling banyak makan waktu. Data ini bikin gue sadar kalo ternyata gue cuma produktif 4 jam sehari, bukan 8 jam kayak yang gue kira.
Habit Tracker yang Nggak Cuma Checklist
Fitur habit di TickTick itu lebih advanced daripada app khusus habit tracker. Lo bisa set frekuensi “3 kali seminggu”, “setiap 2 hari sekali”, atau bahkan “setiap hari kerja”. Ada streak counter, ada success rate, dan lo bisa lihat trend dalam grafik yang cantik.
Gue track 7 kebiasaan: olahraga, baca buku, meditasi, dan lain-lain. Success rate gue naik dari 40% ke 78% dalam 3 bulan pertama pakai TickTick. Data nggak bohong.
Kelebihan TickTick vs Kompetitor
Mari kita jujur: Todoist masih raja di NLP dan kecepatan, tapi TickTick nggak kalah jauh. Yang bikin TickTick menang adalah value-for-money dan fitur all-in-one.
| Fitur | TickTick (Gratis) | Todoist (Gratis) | Todoist (Pro) |
|---|---|---|---|
| Task & Subtask | Unlimited | 5 project limit | Unlimited |
| Kalender View | ✓ Full | ✗ Hanya 3 hari | ✓ Full |
| Pomodoro Timer | ✓ Bawaan | ✗ Butuh integrasi | ✗ Butuh integrasi |
| Habit Tracker | ✓ Bawaan | ✗ Tidak ada | ✗ Tidak ada |
| Harga per bulan | $0 | $0 | $5 |
Di versi premium ($27.99/tahun), lo dapet custom filter advanced, lebih banyak tema, dan statistik detail. Bandingin sama Todoist Pro yang $48/tahun. TickTick hampir setengah harga tapi fiturnya lebih kaya.
Kekurangan yang Perlu Lo Tahu
Nggak ada aplikasi sempurna, dan TickTick punya beberapa “luka” yang perlu lo pertimbangkan.
Performance di mobile agak lambat kalau lo punya ribuan task. Gue notice delay 1-2 detik pas buka app di iPhone 13. Nggak parah, tapi noticeable. Di desktop (Mac/Windows) lancar jaya.
NLP-nya kurang “pintar” dibanding Todoist. Misalnya, “every weekday” kadang diartikan salah. Lo harus pakai format “every Mon, Tue, Wed, Thu, Fri” untuk aman. Ini minor tapi bikin sebel kalau udah terbiasa Todoist.
Integrasi pihak ketiga terbatas. Kalau lo butuh workflow kompleks dengan Zapier atau IFTTT, Todoist masih unggul. TickTick punya API tapi dokumentasinya kurang lengkap dan integrasi bawaan lebih sedikit.
Untuk Siapa Sih TickTick Ini?
Setelah 8 bulan pakai, gue bisa kasih verdict jelas:
- Freelancer dan pebisnis kecil: Perfect. Lo bisa manage client, project, dan kebiasaan pribadi dalam satu app tanpa bayar mahal.
- Estudiante yang butuh organisir tugas + habit: Ideal. Gratisnya cukup untuk handle semua kebutuhan kuliah.
- Productivity enthusiast yang suka data: Statistik fokus dan habit tracker bakal bikin lo senang.
- Tim besar yang butuh kolaborasi advanced: Kurang cocok. Lebih baik pakai Asana atau ClickUp.
Kalau lo tipe orang yang suka semua dalam satu tempat dan nggak mau ribet install banyak app, TickTick itu jawabannya. Tapi kalau lo butuh ekosistem integrasi super kuat, mungkin Todoist + app lain masih lebih baik.
Tips Jitu Biar Maksyimal Pakai TickTick
Gue share setup gue yang udah terbukti work:
- Pakai tag untuk konteks: Gue pakai @deepwork, @quickwin, @meeting. Ini bikin lo bisa filter task sesuai energi dan waktu yang ada.
- Bikin smart list custom: Gue punya “Today Focus” yang nampilin task dengan tag @deepwork dan deadline hari ini. Ini bikin lo nggak overwhelmed lihat semua task.
- Integrasi dengan email: Forward email ke alamat khusus TickTick dan otomatis jadi task. Gue setup di Gmail biar email dari klien langsung jadi task dengan label “Waiting For”.
- Pakai template untuk project repetitif: Gue punya template “Onboarding Client” yang isinya 20 task standar. Tinggal duplikat dan ganti nama client, save 30 menit setup tiap kali.
Perhatian: Jangan terlalu banyak bikin list dan tag. Gue pernah punya 50+ list dan jadi paralyzed. Sekarang gue cuma pakai 7 list utama dan 5 tag. Simple is better.
Verdict Akhir: Worth It atau Skip?
TickTick itu the hidden gem of productivity apps. Dia nggak sepopuler Todoist, tapi value-nya luar biasa. Versi gratisnya udah ngalahkan premium app lain, dan versi premiumnya murah tapi kaya fitur.
Gue pindah dari Todoist Pro ke TickTick Premium 8 bulan lalu dan nggak pernah nyesel. Satu-satunya yang gue rinduin dari Todoist cuma NLP-nya yang lebih pintar. Sisanya? TickTick menang telak.
Kalau lo lagi nyari all-in-one task manager yang powerful tapi nggak bikin kantong jebol, cobain TickTick minimal 2 minggu. Jangan cuma install dan tinggal. Pakai Pomodoro-nya, track habit lo, dan lihat statistik fokus mingguan. Baru deh lo bisa judge apakah dia cocok atau nggak.
Produktivitas itu soal sistem yang konsisten, bukan app yang sempurna. Tapi kalau app bisa bikin sistem lo lebih gampang dijalankan, kenapa nggak?




