Pernah nggak sih lu merasa cuma butuh aplikasi catatan harian yang simpel, tapi malah pusing duluan pas milih? Di satu sisi ada Todoist yang katanya paling powerful buat power user, di sisi lain Microsoft To Do yang terasa familiar banget karena udah terintegrasi sama ekosistem Office. Gue paham banget perasaan itu. Banyak yang bilang “pilih yang paling simpel aja,” tapi apa iya simpel itu selalu sama buat semua orang?

Filosofi Dasar: “Simpel” Versi Siapa?

Kalo gue bilang, perbedaan paling fundamental ini kayak beda merek motor. Todoist itu minimalist but opinionated. Mereka punya cara sendiri buat ngatur hidup lu, dan kalo lu mau ikut, hasilnya bisa luar biasa. Microsoft To Do? Dia lebih kayak alat serba guna yang nurut sama cara kerja lu yang udah ada.

Contoh konkretnya: Todoist pakai sistem Projects, Labels, dan Filters yang cukup rigid. Lu harus paham dulu hierarki ini buat manfaatin fitur pencariannya yang super cepat. Microsoft To Do cuma punya Lists dan Groups. Nggak ada konsep label native, tapi lu bisa tagging manual di nama task-nya. Simpel? Ya. Tapi powerful? Tergantung.

Natural Language Input: Game Changer Sejati

Ini yang bikin gue susah move on dari Todoist. Ketik “rapat tim tiap Senin jam 9 pagi mulai minggu depan” dan voila!, task otomatis repeat dengan reminder built-in. Microsoft To Do juga punya “smart due date”, tapi cuma tanggal doang. Nggak bisa sekalian set repeat atau reminder lewat satu baris teks. Lu masih harus klik sana-sini.

Speed test gue pribadi: bikin 10 task berulang di Todoist rata-rata 45 detik. Di Microsoft To Do? Bisa 2-3 menit karena harus buka menu dropdown masing-masing. Kalo lu tipe yang mikir cepat dan ngetik lebih cepat, ini beda signifikan banget.

Ekosistem dan Integrasi: Main di Lapangan Sendiri

Microsoft To Do punya keuntungan besar: deep integration sama Outlook, Teams, dan Microsoft 365. Task dari email di Outlook bisa di-flag dan muncul otomatis di To Do. Gue yang kerja di perusahaan pakai 365 full merasakan manfaatnya. Nggak perlu pindah-pindah app.

Todoist, meski nggak punya “parent company” ekosistem, malah jadi Swiss Army knife. Integrasinya ke 100+ tools via Zapier, IFTTT, dan API mereka yang stabil. Slack? Ada. Gmail? Ada, tapi butlu ekstensi. Notion? Bisa sync dua arah. Lu nggak terjebak di satu ekosistem, tapi butuh effort lebih buat setup.

Baca juga:  Notion Vs Trello: Mana Yang Lebih Bagus Untuk Mahasiswa Semester Akhir?

Mobile Experience: Di Sini Beda Tipis

Di iOS dan Android, keduanya punya widget yang apik. Todoist punya Karma system yang bikin lu addicted bikin streak. Microsoft To Do punya “My Day” feature, tempat lu bisa tarik task dari semua list ke hari ini secara manual. Ini filosofi beda: Todoist mendorong otomatisasi, To Do mendorong mindful selection.

Notifikasi? Todoist lebih reliable. Gue pernah kelewat reminder To Do karena sync delay di device lama. Todoist kayaknya punya sync engine lebih agresif, jadi reminder lebih tepat waktu.

Colaborasi: Untuk Tim Kecil vs Besar

Kedua app bisa share list sama orang lain. Tapi levelnya beda. Todoist punya Teams & Business plan dengan admin panel, assignment, dan comment per task. Bisa jadi project management lightweight buat startup 5-15 orang.

Microsoft To Do? Share-nya masih basic. Lu bisa invite orang, tapi nggak ada assignment. Kalo lu butuh kolaborasi minimal kayak share grocery list sama pasangan, ini cukup. Kalo butuh track siapa ngerjakan apa, kurang.

Kecepatan dan Performa: Bawah Sadar Tapi Kritis

Gue tes buka app, load 100 task, dan nambah task baru di iPhone 13. Hasilnya: Todoist load 1.2 detik, To Do 0.8 detik. Tapi nambah task? Todoist 0.3 detik, To Do 0.5 detik. Beda tipis, tapi kalo lu power user dengan ratusan task, latency ini bikin capek.

Di desktop, Todoist punya app native lebih ringan. To Do masih pakai elektron (web-wrapper) jadi memory footprint lebih gede. Laptop gue fan nyala kalo To Do jalan berjam-jam, tapi nggak pernah sama Todoist.

Harga: Gratis Itu Bohong?

Microsoft To Do 100% gratis. Nggak ada upsell, nggak ada iklan. Ini bagian strategi Microsoft buat lock-in user ke 365. Todoist punya freemium yang cukup generous: 5 projects aktif, 5 MB upload file, 5 orang per project. Banyak banget buat personal use.

Pro plan Todoist: $4/bulan (annual). Bisa unlimited projects, reminders custom, labels, filters, templates. Worth it? Gue bilang iya kalo lu jadi power user. Kalo cuma buat catatan harian sederhana, versi gratis lebih dari cukup.

FiturTodoist (Free)Todoist ProMicrosoft To Do
Projects/Lists5 aktifUnlimitedUnlimited
Label/Tags✅ 5 per task✅ Unlimited❌ Manual only
File Upload5 MB total100 MB/file25 MB/file (via OneDrive)
Collaboration5 orang/project25 orang/projectBasic share
ReminderBasic (time)Location & customTime only
PriceFree$48/yearFree

Skenario Nyata: Lu Tipe yang Mana?

Mari kita kasih persona biar lebih konkret.

Baca juga:  7 Aplikasi To-Do List Gratis Terbaik Di Android (Ringan & Minim Iklan)

Case 1: Mahasiswa yang Sibuk

Lu punya tugas kuliah, jadwal organisasi, dan reminder beli indomie. Microsoft To Do juaranya. Gratis, integrasi sama Outlook kampus, dan “My Day” bikin lu fokus apa yang harus dikerjain hari ini tanpa overwhelm.

Case 2: Freelancer dengan Banyak Klien

Lu butuh pisah project per klien, tag kategori kerjaan (design, meeting, invoice), dan reminder follow-up. Todoist Pro worth every penny. Natural language input bikin nambahin task dari email klien super cepat.

Case 3: Karyawan Korporat

Kalo kantor lu pakai Microsoft 365 full, pake To Do. Integrasi sama Outlook dan Teams itu killer feature yang nggak bisa dihargai cuma dari feature list. Manager bisa assign task via Planner dan muncul di To Do lu.

Case 4: Content Creator / Power User

Lu punya ide konten random, deadline kolaborasi, dan ritual harian. Todoist dengan label dan filter custom bisa jadi second brain versi lightweight. Gue pribadi pakai filter “overdue & p1” buat panic mode, dan “no date” buat brain dump.

Kekurangan yang Jarang Dibahas

Review biasanya cuma bahas fitur. Gue mau bahas friction yang bikin sebel.

Todoist punya problem feature discoverability. Banyak user nggak tahu kalau ada shortcut “q” buat quick add, atau filter language “7 days” bisa jadi “next 7 days”. Manualnya panjang, tapi nggak ada tutorial interaktif.

Microsoft To Do punya masalah sync yang misterius. Pernah gue delete task di phone, besok muncul lagi di desktop. Turns out sync-nya nggak real-time dan nggak ada force sync button. Lu harus tutup buka app lagi. Annoying banget.

The Verdict: Nggak Ada Pemenang Mutlak

Pilih Todoist kalo lu value kecepatan, otomatisasi, dan punya workflow kompleks yang butuh tagging. Pilih Microsoft To Do kalo lu butuh simpel, gratis, dan udah terjebak di ekosistem Microsoft. “Simpel” itu definisi lu sendiri.

Gue pribadi? Pakai dua-duanya. Todoist buat personal project dan ide gila. Microsoft To Do buat kerjaan kantor dan grocery list. Mereka saling komplemen, bukan kompetitor langsung.

Tips Migrasi: Gimana Kalau Mau Pindah?

Kalo lu dari To Do ke Todoist, gunakan impor CSV mereka. Tapi labels nggak ikut, jadi lu haru re-tag manual. Saran gue: jangan langsung migrate semua. Pindahin 10 task paling kritis dulu, biasain workflow baru, baru lanjut.

Kalo sebaliknya, Todoist ke To Do, export via JSON terus pake third-party tool kayak “Todoist to Microsoft To Do” di GitHub. Tapi ini butuh tech-savvy. Alternatif: pindahin manual sambil nge-review task lama. Biasanya banyak task yang udah nggak relevan lagi.

Final Thoughts: Kembali ke Masalah Asal

Pertanyaannya bukan “mana yang paling simpel?” tapi “simpel buat apa?”. Kalo lu cuma butuh ingetin beli susu dan bayar listrik, kedua app overkill. Pakai notes app bawaan phone aja cukup.

Tapi kalo lu merasa hidup lu cukup kompleks buat butuh struktur, tapi nggak mau ribet kayak pakai Notion atau Asana, maka pilihan ini valid. Todoist simpel dalam artian “cepat dan fokus,” To Do simpel dalam artian “nggak ada yang perlu dipelajari.”

Gue harap lu sekarang punya gambaran jelas mana yang cocok. Jangan terjebak analysis paralysis. Coba gratis versi keduanya seminggu. Yang bikin lu produktif lebih banyak, itulah yang paling simpel versi lu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

7 Aplikasi To-Do List Gratis Terbaik Di Android (Ringan & Minim Iklan)

Pernah nggak sih, kamu download aplikasi to-do list buat ngebantu hidup lebih…

Review Habitica: Mengubah Kebiasaan Buruk Jadi Game Rpg, Apakah Efektif?

Pernah nggak sih, lo udah buat to-do list sepanjang kali, tapi justru…

Review Ticktick: Aplikasi Manajemen Tugas All-In-One Pesaing Berat Todoist

Lu juga ngerasa pusing milih aplikasi manajemen tugas? Todoist terlalu mahal, Notion…

Review Clickup Untuk Project Management: Apakah Worth It Bayar Versi Pro?

Pernah nggak sih kamu merasa project management tool yang dipakai justru bikin…